Bagi menghilangkan rasa cemas, saya menarik nafas dalam-dalam sambil memeluk tubuh penuh
erat. Kedinginan membuat kelopak bibir bergetar. Dengan ekor mata saya jeling ke arah Andi
Kamarool yang keresahan.
Adakah Andi Kamarool mahu berada di sini sehingga fajar pagi terbit di kaki langit? Suara batin
terus bergema. Dan dalam keadaan yang seba tidak kena itu, perlahan-lahan saya dongakkan
kepala, merenung langit yang cerah. Awan nampak bersih sekali, bintang bertaburan di manamana.
Bulan sabit kian mengecil.
Saya segera berfikir, cara paling baik mengatasi masaalah yang dihadapi ialah dengan
menyuarakan apa yang ada di dalam hati.
“Berapa lama kita harus berada disini Andi?” dalam keadaan separuh menggigil saya bertanya.
“Oh…..” Andi Kamarool kerutkan kening. Tetapi sepasang anak mata nya masih menyorot ke
rumpun bambu kuning.
“Aku tak tahan berdiri di sini lama-lama. Aku sejuk Andi,” suara saya tertahan-tahan.
“Iya, aku juga macam kamu Tamar. Jadi apa yang mesti kita buat?”
“Kita balik saja Andi.”
“Tapi, macam mana dengan Mia dan Kak Sun?”
“Pedulikan, mari kita balik Andi.”
“Jum….”
Sebelum langkah pertama dimulakan untuk pulang kerumah papan, serentak saya dan Andi
Kamarool membuang pandangan ke arah perdu buluh kuning yang diterangi cahaya lilin. Mia
begitu khusyuk menghadapi timbunan batu kubur. Kak Sun yang berdiri membelakangi Mia
tersenyum sambil mengamit kami agar medekatinya.
“Jangan dekati dia Andi,” bisik saya.
Andi Kamarool mengangguk. Tetapi Kak Sun, mengamit.
“Jangan pedulikan dan jangan kata apa-apa. Dia ada pendamping, sebab setiap kali aku kutuk dan
maki hamun Kak Sun, macam ada sesuatu yang datang kacau aku. Ada masanya aku ditampar,
ditolak, ditendang. Aku tak dapat kesan benda aneh tu,” saya pegang tangan kanan Andi
Kamarool.
“Aku faham Tamar.”
“Mari kita balik, Andi.”
“Jum….”
Dan perjalanan ke rumah papan diteruskan. Kami membelah kedinginan dinihari yang
mencengkam tulang. Salakan anjing liar, suara burung hantu dan musang jalang terus memukul
gegendang telinga kami. Bayu dinihari yang bertiup lembut mengugurkan air embun yang
terkumpul di hujung daun. Bila terkena kulit tubuh menambahkan lagi kedinginan.
Saya jadi marah dan meradang semacam, bila perjalanan dihalang oleh reranting yang bertaburan
dipermukaan tanah. Entah mengapa, hati saya cukup ghairah untuk mencapai secepat mungkin
ke rumah papan. Saya benci dengan lolongan anjing liar, suara burung hantu dan musang jalang.
Suara binatang tersebut, saya rasakan seperti mengejek diri kami yang dipermainkan oleh Mia
dan Kak Sun.
“Sabar Tamar, ” Andi Kamarool mengingatkan saya.
“Subhanallah ….,” kata saya.
Memang ganjil sekali, dalam kedinginan yang mencengkam itu, dahi dan muka saya berpeluh.
Pokok di kiri kanan jalan yang tadi bergerak lemah disentuh angin, secara mendadak bergoyang
dengan keras, macam ada tenaga yang mengoncangnya.
“Ahh…”
Saya terus melompat, beberapa ekor tikus berbulu kuning sebesar lengan melintas ke depan.
Suara jeritannya boleh mengoyangkan gegendang telinga.
“Berhenti Tamar” Andi Kamarool memaut bahu kanan dan langkah saya berhenti.
Bagi meghilangkan rasa berdebar, saya mengucap panjang sambil merenungke kaki langit. Ada
cahaya kemerah-merahan mucul di situ, menandakan tidak lama lagi subuh akan menyapa
penghuni maya.
“Beri laluan untuk mereka Tamar, bila mereka selesai bari kita pula jalan,” tambah Andi Kamarool.
MULUT
Lebih dari sepuluh minit kami berdiri, memperhatikan kumpulan tikus kuning melintas. Bila
berdepan dengan kami, kumpulan tikus itu menganga mult, memperlihatkan sepasang gigi siung
yang tajam dan panjang, macam gigi singa laut di kutub utara.
Mata sebelah kanan buta dan maakala mata sebelah kiri berukuran sebesar bola pingpong
memancarkan cahaya kebiruan-biruan. Suara jeritan kumpulan tikus cukup gamat
menenggelamkan suara lolongan anjing, burung hantu dan musang jalang.
Perarakan tikus kuning itu diakhiri denagn tikus hitam yang besarnya hamper menyamai kucing
hitam jantan. Muncungnya macam muncung babi.
“Dah habis, sekarang kita teruskan perjalanan,” itu yang dibisikkan oleh Andi kamarool ke telinga.
Arahannya, segera saya patuhi. Langkah yang terbantut diteruskan semula. Kali ini, keadaan
sungguh berlainan, tiada lagi kedengaran suara lolongan anjing, burung hantu dan musang
jalang.
Suasana terasa amat sepi sekali. Langkah pun kami percpatkan. Cahaya merah di kaki langit, kian
garang. Rasa dingin mula mengendur, tidak sehebat tadi.
Ketika kami sampai di kaki tangga rumah papan, terdengar kokok ayam bersahut-sahutan. Kerana
masih percaya dan patuh dengan pesan orang tua-tua, sebelum memijak anak tangga bongsu,
kedua belah telapak tangan kami basuh dengan air embun di hujung daun. Dan kesan air embun
yang masih ada di telapak tangan, kami sapukan ke muka serta kedua belah telinga. Kami segera
naik ke rumah papan. Kerana keletihan, kami terus tertidur.
JELMA
Pagi itu, setelah menunaikan fardhu subuh kami tidur kembali. Kira-kira pukul tujuh setengah
baru bangun. Badan terasa sihat dan segar. Dan seperti pagi-pagi sebelumnya kami tetap menanti
sarapan yang akan dibawa oleh kak Sun. Menjelang jam sembilan, sarapan yang diharapkan itu,
tidak kunjung tiba.
“Tak payah tunggu Kak Sun Tamar, buat air kopi sendiri. Di dapur ada kopi, gula, ada air dan
periuk, ” Andi Kamarool mengemukakan cadangan dan saya menerima tanpa sebarang bantahan.
Kami terus ke ruang dapur.
“Apa yang kita rasa ni, adalah akibat dari peristiwa malam tadi. Mia mogok masak untuk kita dan
Kak Sun pula tak mahu datang ke sini,” suara Andi Kamarool separuh lemah dari atas bendul. Dia
tersenyum melihat saya terkial-kial menghidupkan api di dapur.
“Ini baru amaran pertama, ada lagi akibat yang bakal kita terima. Mungkin lebih buruk dari ini
Andi,” balas saya tenang.
“Sebelum keadaan menjadi lebih buruk, ada baiknya kita tinggalkan tempat ini.”
“Bila waktu nya Andi?” saya mendesak.
“Tengah hari atau sebelah petang,”
“Aku setuju. Tapi, siapa nak beritahu Mia? Apa alasan yang nak kita beritahu dia. Aku tak mahu
menganggap rancangan kita gagal, kerana itu kita cabut. Kita kena beri alasan yang cukup lojik,
Andi,” saya segera memasukkan kopi dan gula ke dalam kolei dan kemudian saya kacau
perlahan-lahan.
“Andi Kamarool termenung sejenak, dua tiga kali dia melagakan gigi bawah. Barangkali dia
sedang mencari formula terbaru untuk menyelesaikan masaalah yang sedang dihadapi.
“Begini saja Tamar.”
“Apa lagi Andi?”
“Kita sama-sama jumpa Mia.”
“OK, aku setuju tapi …”
“Tapi apa lagi Tamar.”
Adi Kamarool tidak jadi menghirup kopi. Cawan di letakkan kembali atas lantai. Matanya tidak
berkedip merenung wajahsaya. Dia bagaikan tidak sabar menanti kata-kata yang bakal saya
luahkan. Tentu sekali perasaannya berdebar cemas.
“Kita perlu jumpa Haji Simpul, orang tua yang disebut-sebut, Kak Sun pada kita tu. Dari orang tua
itu, kita cuba korek rahsia diri dan keturunan Mia. Apa macam kau setuju tak?”
“Aku setuju Tamar, bila kita nak jumpa Haji Simpul?”
Andi Kamarool menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak setuju dengan rencana yang saya susun.
Bagi menghilangkan rasa resah, saya menghirup kopi. Andi Kamarool juga berbuat seperti apa
yang saya buat.
“Kenapa kamu tidak setuju Andi?”
“Ada baiknya, kita jumpa Haji Simpul dulu, sebelum kita jumpa Mia. Kemudian kita minta
kepastian dari Mia, apakah cerita yang kita dapat dari Haji Simpul itu benar atau tidak.”
“Iya, aku setuju dengan pendapat kamu tu, Andi.”
Kami terus ketawa. Dan untuk kesekian kalinya, kopi terus kami teguk. Kerana saya sudah
menyediakan air kopi, kerja-kerja untuk mengemaskan barang dan pakaian ke dalam beg menjadi
tugas Andi Kamarool pula. Dan kini, masa untuk saya berehat pula.
MARAK
Sinar matahari pagi berebut-rebut masuk ke ruang tamu, setelah daun tingkap saya kuak. Terpaku
saya di jendela mendengar kicau burung pagi. Aman rasanya mata dan hati melihat pohon yang
menghijau. Sinar matahari terus marak, beberapa orang pekerja Mia memikul cangkul dan pungkis
melintas di depan rumah menuju ke ladang. Mereka tidak lokek mendermakan senyum untuk
saya. Andi Kamarool terus bergelut dengan tugasnya.
“Aku harap datuk kamu dan Haji Basilam tidak ke mana-mana. Tetap menanti kita di Sungai
Penuh,” Andi Kamarool bersuara.
“Seingat aku, datuk jarang mungkir janji,” balas saya. Dan perbualan kami mati di situ saja. Andi
Kamarool kembali dengan tugasnya semula.
Sambil menikmati keindahan alam semula jadi, secara diam-diam saya sorot kembali tindakan
yang telah kami lakukan. Apakah kami telah memilih jalan yang betul atau jalan yang salah,
sehingga kami terperangkap dalam dilemma yang seba sulit ini?
“Andi, Andi buka pintu.”
Bagaikan kilat saya menerpa kearah Andi Kamarool yang terhenti dari melipat pakaian. Kami
saling berpandangan.
“Itu suara Mia,” bisik Andi Kamarool.
“Iya, aku juga fikir begitu.”
Kami kembali membisu. Kembali pandangan dengan seribu pertanyaan. Apa yang timbul dalam
kepala saya ialah malapetaka. Mungkin kedatangan Mia dengan segumpal kemarahan yang
meluap-luap.
“Pergi buka pintu, kalau kedatangan baik, kita sambut dengan baik. Kalau jahat kita sambut cara
jahat. Kita harus bersedia menghadapi seribu kemungkinan,” begitu bersemangat Andi Kamarool
meluahkan kata-kata, mendorong saya melangkah ke pintu dan membukanya.
“Baru bangun tidur.”
Mia tercegat di depan, menatang setalam mangkok untuk sarapan pagi. Dia kelihatan menarik
sekali dengan rambut yang disisir rapi. Ada sekuntum bungah cempaka di celah rambut sebelah
kiri. Baju kebaya biru dengan kain putih amat cocok sekali dengan dirinya. Dia memang anggun.
“Kenapa tercegat, ambil lah talam ni.”
Talam tembaga segera saya sambut.
“Berkemas?”
Saya anggukkan kepala.
“Mahu kemana?”
Pertanyaan itu tidak saya jawap. Walau bagaimanapun Mia tetap melangkah ke ruang tamu,. Andi
Kamarool tercegat di situ menanti kedatangan Mia.
Wajah Mia yang ceria segera berubah menjadi keruh, bila melihat teko dan kesan air kopi di kolei
yang tersadai di ruang tamu. Dengan perlahan-lahan ekor matanya melirik tajam ke arah dua beg
pakaian yang tersandar di sudut dinding. Dan sambil meletakkan ke atas lantai, saya lihat bibir
Mia bergerak-gerak. Macam ada sesuatu yang diperkatakannya.
“Kami ingat tadi, tak ada air dan kuih muih untuk kami, jadi kami pun buat kopi sendiri. Duduklah
Mia, buat apa berdiri macam patung,” lembut sekali nada suara Andi Kamarool.
“Terima kasih.”
Mia terus duduk bersimpuh penuh sopan di sisi saya. Beberapa saat kemudian Andi Kamarool
turut duduk. Kami bertiga (Mia berada di tengah) menghadapi hidangan.
SEMERBAK
Bau kopi asli yang harum semerbak berpadu dengan bau lepat pisang membuat saya hilang malu.
Tanpa segan silu, tudung saji dari mengkuang segera saya buka.
“Kamu ini, memang tak sabar. Gelojoh sangat, tuan punya belum pelawa kau dah mulakan,” Bisik
Andi Kamarool.
“Kopi yang aku buat dengan air kopi yang Mia buat lain rasanya. Air tangan Mia, memang sedap,”
saya berjenaka.
Di tengah-tengah deraian ketawa Mia dan Andi Kamarool, saya terus mengunyah dan menelan
lepat pisang. Air kopi panas yang wangi saya teguk. Tubuh terasa segar dan bertenaga.
“Bernafsu sungguh kamu makan Tamar, jangan lupa orang yang kemudian,” kata Andi Kamarool,
lalu saya sambut dengan senyum.
“Terlambat hantar, maafkan saya,” Mia renung batang hidung Abdi Kamarool.
“Tak mengapa, bantuan dan pertolongan yang diberikan selama ini, rasanya tak dapat kami
balas,” sambil menjamah lepat pisang Andi Kamarool bersuara. Kemudian dia menghirup kopi
panas. Mia masih senyum dengan sepasang mata masih tertumpu pada dua beg di tepi dinding.
“Berkemas mahu ke mana Tamar, Andi?”
Pertanyaan yang sememangnya suda diduga. Tetapi, untuk memberi jawapannya memang sulit.
Kerana tidak memperolehi jawapan segera, membuatkan anak mata Mja berputar kearah saya dan
Andi Kamarool.
Hasil dari renungannya itu, membuat kami jadi serba salah. Antara saya dan Andi Kamarool saling
bertukar pandangan.
“Mahu meninggalkan rumah ini.”
Mia sendiri menemui jawapannya. Serentak kami anggukkan kepala, macam merpati jantan
panggil merpati betina.
“Kami berdua nak jumpa datuk Tamar dan Haji Basilam,” Andi Kamarool bersuara tunduk. Dia
bagaikan tidak sanggup menatap muka Mia.
“Ke Sungai Penuh?” soal Mia.
“Betul, Mia,” balas saya.
Mia dongakkan muka merenung siling rumah. Kemudian meraba kuntum bunga cempaka di
kepala yang kedudukannya sudah agak senget kekanan.
“Terlalu cepat, agaknya kamu dah jumpa penunggu rumah batu.”
“Tak jumpa Mia, kami gagal,” tutur saya kehampaan.
“Sepatutnya kamu berdua teruskan hingga berjaya, jangan cepat putus asa dan mudah
mengalah.”
Kata-kata yang terpancut dari kelopak bibir Mia, membuat saya dan Andi Kamarool menggigit
bibir. Saya kira debar dada Andi Kamarool tidak sehebat debar di dada saya. Sebenarnya, secara
tidak langsung Mia mencabar kami. Saya dan Andi Kamarool terus membisu. Pertanyaan Mia tidak
mendapat tindak balas dari kami.
“Malam tadi macam mana ?”
Pertanyaan itu membuat saya tersentak. Mustahil Mia tak tahu apa yang berlaku malam tadi.
Lantas saya membuat kesimpulan, Mia tahu tapi sengaja buat tak tahu.
“Kami gagal,” sahut saya.
“Tak mahu diteruskan lagi?” soalnya serius.
“Tak mahu, kami dipermain-mainkan,” sahut Andi Kamarool.
“Maksud kamu Andi?” sepasang bijik mata terbeliak menghala ke batang hidung Andi Kamarool.
Saya lihat Andi Kamarool resah. Barangkali dia terjerat dengan pertanyaan itu atau tidak mahu
mengungkit-ungkit hal yang sudah berlalu kerana perbuatan itu boleh memalukan Mia.
“Cuba terangkan, aku tak faham Andi,” Mia terus mendesak.
“Malam tadi, kamu menghias diri. Pergi kekubur lama di bawah pokok buluh kuning, apa kamu
sudah lupa Mia?. Kamu mahu mempermainkan kami.” Ungkapan yang saya luahkan itu membuat
Mia terkejut. Dahinya berkerut dan wajahnya agak pucat. Andi Kamarool tunduk merenung lantai.
“Aku tak faham Tamar, kamu menuduh sebarangan saja,” sanggah Mia.
“Malam tadi, kamu membalut tubuh dengan kain hitam, kamu mengelingi kubur berkali-kali. Kak
Sun menemani kamu. Aku dan Andi tengok segala-galanya. Usah berdalih Mia, usahlah
mempermain-mainkan aku dan Andi,” semua yang bergolak dalam hati terus saya luahkan. Andi
kamarool membiarkan, dia seolah-olah tidak mahu membabitkan diri dalam situasi yang agak
yang agak tegang ini.
“Aku tak buat perkara tu, Tamar,” suara Mia meninggi. Dia mula memperlihatkan riak kemarahan
dan terus melompak bagaikan harimau menerkam pelanduk. Dalam sekelip mata Mia terus berdiri
tercegat.
“Kamu jangan menuduh sebarangan Tamar,” dia mula menjerit dan menghentak-hentak kakinya
ke lantai. Piring dan cawan yang ada didalam talam tembaga turut bergegar. Mia benar naik angin,
gerak gerinya tangkas sekali, bagai seorang lelaki. Sifat gadis yang lembut terus hilang darinya.
“Mia, nanti dulu jangan melenting,” Andi Kamarool segera bertindak dengan mendekati Mia.
“Kamu tak boleh menuduh sebarangan pada Mia, kamu harus bertanya dengan cara baik,”
sambung Andi Kamarool sambil melepaskan pandangan yang tajam terhadap saya.
Entah apa ilmu yang digunakan oleh Andi Kamarool, kemarahan Mia yang meluap segera menjadi
sejuk. Dia nampak tenang dan duduk bersimpuh kembali.
“Maafkan Tamar, Mia,” pohon Andi Kamarool.
Mia anggukkan kepala. Agar, situasi menjadi aman, Andi Kamarool mengungkap kembali kisahkisah
lucu yang pernah dialaminya yang disampaikan secara berjenaka, membuat saya dan Mia
ketawa terbahak-bahak.